Apakah Jatuh Cinta Semudah Itu?

Pernah kah kalian ketika ikutan sebuah acara atau entah saat berpergian kemana, saat tiba-tiba berpapasan atau melihat seseorang lawan jenis lalu degup jantung berpacu lebih kencang?

Aku sering merasakan hal demikian, aneh? SANGAT!

Beberapa kali aku merasakannya, terlebih setahun yang lalu pada saat aku menghadiri sebuah acara. Aku mengagumi seseorang hanya karena aku melihat senyumnya yang tidak sampai lima menit! Tapi saat itu aku lebih beruntung karena mendapatkan informasi dan kabar berita tentangnya begitu mudah, dia sangat aktif di media sosialnya. Awalnya aku begitu menggilainya, SANGAT! Aku sering stalking akun media sosialnya, dia seperti inspirasi buatku meskipun aku sadar aku tidak akan bisa memilikinya. Lalu pada akhirnya aku mulai bosan dan lelah untuk mengaguminya dan perlahan mundur teratur.


Dan hal itu nyatanya terjadi lagi pada tahun ini, aku bertemu dengan laki-laki yang juga menarik perhatianku bedanya kali ini aku bisa bertegur sapa bahkan sampai menjabat tangannya. Bedanya, selepas acara itu dan kami ‘berpisah’ aku begitu kesulitan mencari kabar berita terbarunya. Sulit sekali mendapatkan info tentangnya.

Laki-laki ini berlesung pipi, kalau kata temanku dia itu AFGAN KW SUPER. Aku hanya tertawa mendengarnya tapi aku sependapat. Suaranya bagus, orangnya ramah dan dari hasil stalking terakhir yang aku dapatkan dia cukup alim. Ah, aku merasa ingin mundur duluan rasanya hahahaha aku ini terkesan urakan, cuek sedangkan dia? HAHAHAHA

Sekarang aku punya kegiatan baru, setiap malam aku selalu mendengarkan suara dia yang sedang bernyanyi berkat google aku menemukan akun soundcloudsnya, dan rekaman suara dialah yang menjadi penawar rinduku ini. Meskipun kami masih satu kota dan berjarak dekat, tapi aku tidak yakin dapat bisa bertemu dengannya lagi.

Oh iya, aku selalu punya keyakinan konyol kalau suatu hari aku bisa bertemu dengan mereka yang dapat menarik hatiku sampai sebegininya.

Aku tidak yakin perasaan apa yang aku rasakan, mungkinkah jatuh cinta semudah itu?

Aku hanya dapat berdoa dan berharap pada Tuhanku Yang Maha Kuasa, semoga Dia berkenan mempertemukan aku dan laki-laki yang telah mengisi hari-hariku selama tiga hari kemarin. Aamiin

Advertisements

Selepas kamu pergi.

Entah siapa yang salah di dalam kisah lalu kita berdua. Entah saya yang salah karena terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan lagi akan bagaimana jadinya nanti, dengan keras kepalanya saya tetap teguh memegang keputusan saya seolah saya tengah menggenggam harapan baru yang picisan. Selepas semua berakhir, saya pergi bukan karena saya tidak mencintaimu lagi. Bukan pula karena saya lelah bersamamu. Saya hanya lelah dengan hubungan kita, entah saya yang terlalu dungu atau bagaimana sehingga begitu saja mempercayaimu dan nyatanya kamu malah asyik mencari cinta yang lain di belakang saya. Betapa pedihnya hati saya.

Selepas kamu pergi, banyak laki-laki yang datang dan pergi mengisi kekosongan hati saya tapi tak sedikitpun ada yang berhasil mengikat komitmen dengan saya tidak seperti dirimu yang seolah dengan mudah melupakan saya begitu saja dan mengganti posisi saya di hatimu dengan mudahnya. Sungguh saya tak apa, begitulah pilihan yang telah saya ambil.

Selepas kamu pergi.

Entah siapa yang salah di dalam kisah lalu kita berdua. Entah saya yang salah karena terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan lagi akan bagaimana jadinya nanti, dengan keras kepalanya saya tetap teguh memegang keputusan saya seolah saya tengah menggenggam harapan baru yang picisan. Selepas semua berakhir, saya pergi bukan karena saya tidak mencintaimu lagi. Bukan pula karena saya lelah bersamamu. Saya hanya lelah dengan hubungan kita, entah saya yang terlalu dungu atau bagaimana sehingga begitu saja mempercayaimu dan nyatanya kamu malah asyik mencari cinta yang lain di belakang saya. Betapa pedihnya hati saya.

Selepas kamu pergi, banyak laki-laki yang datang dan pergi mengisi kekosongan hati saya tapi tak sedikitpun ada yang berhasil mengikat komitmen dengan saya tidak seperti dirimu yang seolah dengan mudah melupakan saya begitu saja dan mengganti posisi saya di hatimu dengan mudahnya. Sungguh saya tak apa, begitulah pilihan yang telah saya ambil.

15 Mei tahun ketiga

15 Mei tahun ketiga

Tiga tahun yang lalu mungkin saya masih sangat peduli dengan apa yang terjadi pada 15 Mei, bukan, bukan tentang kerusuhan Mei yang meninggalkan duka mendalam bagi sebagian penduduk Indonesia. Tapi pada tanggal 15 Mei sendiri selalu terjadi kerusuhan dalam diri saya. Hati dan pikiran saya selalu bersitengang dengan hebat! Dan itu sungguh memusingkan, ingin rasanya saya teriak. Mencopot pikiran dan hati saya barang sejenak saja. Beberapa kali saya berharap pada semesta semoga tanggal 15 Mei saya menjadi amnesia mendadak. Ternyata melupakan itu jauh lebih sulit daripada melepaskan. Dan memaksa diri untuk lupa pun begitu menyakitkan. Berlebihan? Memang. Saya akui itu.

Tahun selanjutnya, 15 Mei tahun kedua. Saya sempat nyaris berhasil amnesia sehari saja. Harapan saya akhirnya terkabul! Tapi 15 Mei tahun kedua nyatanya lebih berat daripada tahun pertama. Bukan karena saya telah melupakan, atau memaksa diri saya untuk lupa. Tapi saya pura-pura lupa bahwa ada tanggal 15 Mei masih dalam kalender. Dan sialnya, saya masih mengingat. Dan ego saya masih ada.

Dan pada tahun ini, 15 Mei. Saya berhasil lupa! Sialnya, saya kembali mengingatnya. Tapi dengan keadaan yang berbeda. Tidak lagi memarahi diri saya sendiri, “kenapa harus ingat?” ataupun memaksa diri saya sendiri untuk lupa. Atau untuk sekedar pura-pura lupa dengan 15 Mei, tapi di tahun ini saya benar-benar sudah lupa. Saya sekedar mengingat 15 Mei ini hanya selewat angin. Di tahun ini, saya sudah menemukan jawaban atas pertanyaan saya tahun-tahun sebelumnya, “kenapa harus inget sih? Kenapa nggak lupa aja?” saya menyadari yang berbicara demikian adalah sisi lain dari diri saya yaitu ego saya. Saya tahu ego saya terlalu besar untuk sekedar menerima sebuah kenyataan. Saat itu posisi saya memang serba sulit, ya, terlalu perih luka hati saya karena perpisahan itu dan seharusnya saya juga menyadarinya dan lalu menerimanya saja. Di tahun ketiga ini, Saya jadi tahu rasanya berproses tuh bagaimana, dan saya juga tahu waktu telah mengembalikan segalanya. Menyembuhkan semua, ya, semua tanpa terkecuali. Dua tahun terakhir hati saya perih sekali bahwa saya harus bertahan, dan lebih memilih ego saya sendiri. Padahal nyatanya saya hanya ingin sekedar mengingat lalu mengucapkan, “selamat”. Terlalu menyakitkan memang mengingat sesuatu dari orang yang bahkan mungkin sudah ‘melupakan’ segala remeh-temeh tentang saya.

Kata siapa saya gagal menerima? Kalau saya gagal, nggak mungkin hingga detik ini saya masih bisa merangkai cerita kehidupan saya sendiri. Saya tahu, Tuhan tahu mana yang terbaik bagi saya. Saya bahagia atas pilihan saya sendiri. Mungkin terkesan ‘belagu’, saya memang ‘belagu’ karena saya belajar ‘belagu’ dari kamu :p

Hallo kamu, di tahun ketiga ini. Dengan segala penerimaan yang telah saya dapatkan dari sebuah kesakitan yang pernah kamu berikan. Karena ego saya telah luntur, ucapan ini sudah saya pendam selama tiga tahun lamanya. Sengaja saya simpan untuk saya ucapkan jika saya benar-benar telah kuat untuk mengucapkannya dengan penuh kelegaan.

Selamat hari lahirmu, selamat menyongsong kedewasaanmu. Kamu sendiri yang tahu apa terbaik bagimu. 🙂

 

Hey Kamu!

hey kamu, apakah hanya aku saja yang merindu?
hey kamu, bisakah kita mengulang lagi semua itu?
jogjakarta menjadi saksi, betapa dua orang yang dulu saling mencintai tepisah selama lima tahun lamanya dan kemudian bersama hanya selama lima hari saja.
Saat kemarin aku berada dekatku, hanya satu yang kuharap sejak itu. Ku mohon, Tuhan hentikan waktu, agar kebahagiaan yang kurasakan tak cepat berlalu..
Aku rindu kamu, aku butuh kamu.. aku sayang kamu iqi :’)